Puasa dan Relasi Horizontal ;
Meninjau kembali Gaya Keberagamaan Umat
Oleh: Ganna Pryadharizal Anaedi Putra
Ya Allah sampaikan kami -kembali- kepada bulan ramadhan. (al-hadits)
Dari dua belas bulan yang kita jalani tiap tahunnya, Allah menyisipkan satu bulan sebagai "bonus" untuk kita, diharapkan dengan bonus track tersebut kita bisa meraup sebanyak-banyaknya pundi-pundi pahala. Lalu ibarat bengkel, dengan datangnya bulan Ramadhan ini dipercaya kita bisa mendapatkan berbagai macam service, kemudian tersegarkan dan akhirnya kita benar-benar serasa menjadi baru.
Tak ayal lagi, diturunkannya bulan Ramadhan untuk kita tiada lain agar kita menjadi abdi yang bertakwa dan bersyukur (al-Baqarah: 183 & 185). Takwa berarti melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya, tetapi dalam pengertiannya yang lebih luas, takwa juga bisa berarti hubungan yang harmonis dan pergaulan yang baik dengan sesama manusia dalam komunitas sosialnya. Karena hal yang demikian juga termasuk salah satu yang diperintahkan Allah kepada kita, maka satu hal inilah yang akan penulis garis bawahi.
Mari kita menoleh sejenak ke belakang, jika kita membuka lembaran sejarah tentang Ramadhan maka kita akan menemukan berbagai peristiwa yang monumental. Bulan Ramadhan adalah permulaan dimana turunnya teks pedoman umat (al-Qurân) dan di bulan tersebut juga meletus perang yang menjadi satu tonggak awal fase dakwah Islam, yaitu perang Badar. Dari dua peristiwa tersebut kita bisa menangkap satu sinyalemen penting yaitu diantaranya pesan mengenai proses perbaikan individu dan masyarakat (ishlâh al-fard wa al-mujtama'). Turunnya al-Quran bisa dijadikan bukti konkrit proses perbaikan individu, lalu perang badar bisa dipahami sebagai wujud nyata proses perbaikan masyarakat (muslim khususnya) dan pengorbanan (salvation) dalam bentuk jiwa serta harta. Seperti kita ketahui, turunnya al-Quran tidak berbarengan dengan terjadinya perang badar, tetapi kita bisa melihat konteks dan mengadopsi semangatnya, bahwa di bulan Ramadhan, sejatinya kita harus mensinergikan antara nilai-nilai ubûdiyyah ilâhiyyah (meminjam istilah Arif Munandar, 'ritual langit') dan muâmalah insâniyyah (interaksi humaniter).
Menuju Dimensi Puasa Humaniter
Kedatangan bulan Ramadhan kali ini, sejatinya harus menjadi wake up call kepada seluruh umat Islam agar menjadi lebih baik dalam segala hal, dan menjadi starting point dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah. Dan idealnya, puasa yang kita jalani haruslah memiliki efek dan implikasinya ke dalam ranah-ranah praksis.
Akan tetapi hampir kebanyakan dari kita –termasuk penulis juga- masih menjalankan puasa hanya sekedar rutinan dan malahan terjebak menjadi agenda tahunan. Tanpa tersadarkan untuk mencoba menyingkap 'ruh' dan efek yang seharusnya timbul dari proses ibadah tersebut.
Di bulan Ramadhan, seluruh umat Islam berpuasa dan berkali-kali khatam al-Quran, namun puasa dan bacaan itu tidak mampu menjadi changing power dalam proses ishlah kehidupan umat. Hingga terkesan ibadah yang mereka kerjakan sekedar memenuhi panggilan Tuhan, dan ditempatkan menjadi sesuatu yang sakral (sacred area). Sehingga tidak aneh bila kita acap kali sering mendengar ungkapan; "puasa sih puasa, tapi ngegosip jalan terus !".
Gaya keberagamaan dan realita dalam masyarakat kita memang seperti itu, semua orang melaksanakan puasa namun hubungan dengan sesamanya tidak harmonis, konflik dimana-mana, tawuran sering terjadi, saling provokasi, dan lain-lain. Perlu diingat, shaum secara etimologi adalah al-imsâk, yang maknanya menahan diri, tapi juga harus kita pahami bukan hanya menahan diri dari makan, minum dan bersetubuh saja. Penulis meyakini bahwa makna shaum memiliki spektrum yang lebih luas dari itu, ia juga harus diartikan sebagai proses menahan diri dari hawa nafsu, syahwat dan kecenderungan-kecenderungan jiwa yang memerintah kepada kejelekan (ammâratun bissû). Berangkat dari pemahaman shaum diatas, seyogyanya kita juga bisa mempuasakan hawa nafsu, ego, dan emosi kita. Sehingga untuk nantinya diharapkan tidak akan ada lagi kejadian-kejadian seperti peledakan bom, tawuran dan tindakan destruktif kontra produktif lainnya.
Dan perlu kita ketahui, bahwa salah satu hikmah dibalik penerapan syariat adalah 'keadilan' (tahqîq al-'adâlah). Perhatikan shalat, dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam, artinya shalat mengandung keadilan antara ubudiyyah vertikal dan relasi horizontal (Syamsi Ali: 2002). Begitu juga dengan puasa, dari fajar hingga maghrib kita menahan diri dari makan dan minum, lalu malamnya shalat taraweh dan pada akhir Ramadhan kita diwajibkan untuk menyetor zakat fitrah, untuk kemudian didistribusikan kepada orang yang berhak mendapatkannya. Keseluruhan hal tersebut merupakan potret dari keadilan antara penghambaan teosentris dengan interaksi antroposentris. Sederhananya, sibuk melaksanakan puasa tetapi dengan tetangga sering gontok-gontokan, maka sia-sialah puasanya itu (laisa lahu min shiyâmihi illâ al-jûi' wa al-athas). Percuma saja kita saleh secara individual, tapi kesalehan sosial kita abaikan.
Oleh karenanya, untuk konteks keindonesiaan –dan juga kita yang di Mesir- yang cukup rawan dengan konflik, di bulan Ramadhan ini diharapkan kita mampu untuk menahan hawa nafsu, sikap egosentris dan sikap anti sosial lainnya yang bisa mengarah kepada patologi sosial. Hingga tidak ada lagi konflik-konflik dan peristiwa yang melibatkan jiwa dan darah umat manusia. Sehingga di bulan Ramadhan yang sekarang ini sampai seterusnya, akan senantiasa terjalin hubungan harmonis antar sesama manusia dan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, berdasarkan kepada asas perikemanusiaan. Hopefully !. Wallahu 'alam bi ash-shawâb.


<< Home